Minggu, 21 Juni 2009

Biaya Mahal, Danang Menolak Pilih SMU RSBI


Danang dan Mega

Tulungagung (beritajatim.com) - Rasa senang masih tercermin dari wajah yang berseri-seri dua siswa SMP Negeri II Tulungagung, yang telah merebut peringkat 1 dan 2 NUN terbaik se-Jawa Timur. Danang Setiawan dan Fatima Kus Megawati, keduanya hanya bisa bersyukur kepada Tuhan.

Ditemui di SMP Negeri II Tulungagung Jl Panglima Sudirman, Tulungagung, Sabtu (19/6/20009), dua siswa yang masih mengenakan seragam pramuka ini, tampak ceria. Mega, sapaan Fatima Kus Megawati didampingi kedua orang tuanya, dr. El-Kusbandono (55) dan Agustina Ratna (47), mengaku baru saja menjalani tes masuk Rintisan Sekolah Berstandart Internasional (RSBI) di SMU 1 Boyolangu, Tulungagung.

Mega bersikukuh untuk dapat masuk ke SMU RSBI. Anak bungsu dari tiga bersaudara yang gemar dengan membaca novel dan main piano ini bercita-cita ingin menjadi dosen. "Saya ingin
menjadi dosen," ujar Mega, siswa yang tidak menyukai senetron ini.

Sementara Danang, datang ke sekolahnya bersama Lilik Jatmikawati, ibunya. Danang, peraih peringkat pertama tingkat Jatim itu baru saja datang dari SMU Kedungwaru, melihat proses penerimaan siswa baru. Berbeda dengan Mega, bocah asal Jl Gusti Ngurah Rai Gg 7, No 290 Tulungagung itu mengaku memilih jalur reguler.

Kenapa Danang tidak ingin masuk sekolah berkategori RSBI? Siswa yang lahir 11 September 1993 silam itu mengaku bahwa biaya untuk sekolah di RSBI sangat mahal. Dengan kondisi orang tua yang pas-pasan, yaitu ibu bekerja sebagai staf di DPRD Tulungagung, Danang merasa kasihan.

"Kakak saya masih kuliah, dan adik saya juga sekolah, saya kasihan dengan orang tua jika harus masuk ke SMU RSBI. Lebih baik di SMU Kedungwaru yang terkenal dengan olah raga basketnya, sekaligus untuk mengembangkan bakat saya," ujar Danang.

Putra dari pasangan Mulyono dan Lilik Djatmikawati ini mengaku tidak menemui kesulitan ketika mengerjakan soal ujian. Melainkan, Danang hanya khwatir apabila kunci jawabannya rusak. Danang mengaku tidak ada kiat khusus dalam menghadapi ujian, hanya belajar seperti hari-hari biasa dan meminta do'a kepada orang tua. "Yang tidak kalah penting adalah doa orang tua,” kata Danang yang juga rajin mengerjakan Shalat Tahajud ini.

Secara terpisah Wali Kelas 9 A Suratno merasakan kebanggaan yang sama dengan para guru dan Kepsek atas prestasi dua siswanya. “Ini tidak lain juga karena hasil kerja keras kami dalam memberikan bimbingan belajar yang diberikan pada tambahan pelajaran di luar jam, jadi mereka selalu semangat belajar khusunya dalam mengerjakan soal,” pungkasnya.

Catatan CahNdeso :

Jika di Tulungagung demikian, bisa jadi di Trenggalek pun begitu. Biaya sekolah di SMU yang "menggeliatkan kawula alit ", bisa melemparkan generasi berpotensi ke lembah droup out. Sungguh beruntung putra putri para warga berduit, sekalipun anak-anak mereka lemah dalam struktur otaknya, namun gagah perkasa dalam kondisi brankas orang tuanya. Fenomena inilah yang berujung pada perdagangan sertifikat pendidikan formal. Apalah jadinya negeri ini bila paradigma ini terus berlanjut?

0 komentar:

Poskan Komentar

TULIS KELUHAN ANDA DI SINI