Jumat, 21 Januari 2011

Gara-gara Tulis Status di Facebook, Siswa Terancam Dikeluarkan dari Sekolah

Gara -gara membuat akun status di wall facebook yang dilakukan 2 orang siswi SMPN 8 Kota Kediri pihak sekolah hendak memindah keduanya dari Sekolahnya dan keduanya terancam dikeluarkan dari sekolah setelah menulis curahan hati. Kedua siswi yang juga rekan sepermainan tersebut adalah Arum Damayanti pelajar kelas IX A serta Rizky Amelia Wahyuningtyas yang duduk dibangku kelas IX D. Mereka melampiaskan kekecewaan mereka terhadap suatu tindakan yang dilakukan oleh salah satu oknum guru terhadap mereka melalui Facebook.

Akibatnya, status facebook mereka diketahui oleh pihak guru dan akhirnya mereka terancam dikeluarkan dari sekolah. Namun merasa tidak bersalah, keduanya yang diwakili oleh orang tua masing-masing akhirnya mengadukan kejadian yang menimpa putranya ke beberapa pihak, mulai dari DPRD, Dinas Pendidikan hingga Inspektorat.

Sholihatun Nadhiroh, ibu dari Rizky Amelia menuturkan bahwa kejadian tersebut bermula ketika pada suatu upacara yang dilakukan pada Senin akhir November tahun lalu, ada seorang siswa yang kehilangan Handphone dan uang. Setelah selesai upacara pihak sekolah melakukan penggeledahan hape kepada seluruh siswa. Saat itu ada dua kali pemriksaan hape, yang pertama hanya disuruh mengeluarkan hape dan ditaruh diatas meja masing-masing sedangkan yang kedua semua hape disita oleh guru. " Cerita anak saya, pada pemeriksaan kedua yang dilakukan oleh bu Shoimah itu semua hape di bawa. Katanya akan dikembalikan setelah jam pelajaran selesai," ujar Sholihatun Nadhiroh saat mendatangi Kantor Dinas Pendidikan Kota Kediri, Kamis (20/1) siang kemarin.

Namun ketika semua hape siswa sudah terkumpul, Sholihatun Nadhiroh menambahkan, guru yang bersangkutan kembali mengatakan bahwa hape tidak jadi dikembalikan seusai jam pelajaran namun akan dikembalikan setelah ujian berlangsung." La pas semua hape sudah terkumpul dalam timba, bu Shoimah tadi bilang bahwa hapenya baru akan dikembalikan seusai ujian. Padahal ujiannya baru pada bulan April nanti," imbuh warga Mojoroto gang III ini.

Dari kejadian itulah, masih dalam penuturan Sholihatun, ada siswi yang curhat kekesalannya tentang inkonsistensi perkataaan oknum guru melalui facebook dan saat itu anaknya juga ikut komentar. " Yang pertama kali nulis itu Arum Damayanti, isinya tentang hapenya yang disita lalu anak saya mengomefntari dengan berkata "oh yo hapeku yo disita, pancen Huasu enake dipateni ae"," ujarnya mengutip komentar anaknya yang ada difacebook.

Sementara Askandar, 55, ayah dari Arum Damayanti menuturkan bahwa yang dilakukan putrinya seharusnya tidak menyinggung siapapun, sebab dalam komentar-komentar yang ada tidak satupun yang mencatut nama guru ataupun institusi." Anak saya menimpali komentar temannya dengan bilang " wong wis tuek kudune ileng ape modar iku sing sregep ngibadahe". Tapi dari semua komentarnya tidak menyinggung nama dan isntitusi manapun," ujarnya saat sama-sama datang ke kantor dinas pendidikan.

Namun ternyata sang guru yang melakukan penyitaan hape merasa tersinggung dan akhirnya memperkarakan kasus tersebut kepada sekolah maupun pengawas. Dari situlah diputuskan memberi sanksi kepada kedua siswa tersebut. Awalnya sanksi yang dijatuhkan berupa pengeluaran dari sekolah namun setelah beberapa kali pertemuan dengan berbagai pihak baik sekolah maupun orang tua siswa akhirnya sanksi melunak menjadi pemindahan sekolah. Yaitu para siswa tidak boleh bersekolah lagi di SMPN 8 dan dititipkan di SMPN 6.
Askandar menuturkan,
 
Situasi tersebut membuat kedua siswa shock dan tertekan. Maka pihaknya berupaya dengan mencoba mencari kejelasan tentang kelanjutan masa depan pendidikan putrinya. Sebab, dirinya juga beralasan bahwa apa yang dilakukan putrinya hanyalah curahan hati saja." Yang kita lakukan saat ini adalah mencari kejelasan apakah dibenarkan mengeluarkan siswa hanya karena curhat," ujar warga lingkungan Dandangan, Kecamatan Kota Kediri ini.

Sebab, sebagai orang tua dirinya merasa bertanggung jawab terhadap masadepan putrinya. Namun demikian dirinya tidak dapat dapat memaksa putrinya untuk mengikuti kehendaknya. " Terakhir ini kan tidak jadi dikeluarkan, tapi dipindah ke SMPN 6, la kata anak saya daripada pindah mending tidak sekolah. la saya mau maksa juga tidak berhak karena anak saya juga punya hak," tuturnya.

Namun sayang kedatangan mereka ke kantor Dinas Pendidikan sia-sia belaka, Sebab tak satupun stake holder mampu mereka temui. Baik Kadisdik maupun Kabid Dikmenum sedang tidak ada ditempat.

"Pak Wahid (Kadisidik,red) sedang ke Jakarta sedangkan pak Agus (Kabid dikmenum) sedang ke Surabaya," ujar seorang pegawai yang menemui kedua wali murid tersebut.

Sebelum datang ke Kantor dinas Pendidikan, kedua orang tersebut juga mendatangi kantor dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) dan ditemui oleh Nurhadi Sekti Mukti, salah satu anggota dewan. Dalam pengaduannya mereka berharap agar kasus ini terselesaikan secepatnya. Begitu juga dewan, juga berjanji akan memediasi dan memfasilitasi agar cepat kelar." Kita akan berupaya mengawal untuk memediasi dengan pihak yang terkait agar secepatnya selesai," ujar Nurhadi Sekti Mukti pada kedua wali murid tersebut.

Kasus tersebut berjalan cukup jauh hingga ke Inspektorat. Sebab sebelumnya, Shoimah guru yang merasa menjadi korban gunjingan di status facebook juga mendatangi Inspektorat dengan tujuan untuk meminta para siswa yang bersangkutan dikeluarkan dari sekolah. Maka, kedua orang wali murid tadi juga mendatangi Inspektorat dan ditemui langsung oleh Hariyono, Kepala Inspektorat.

"Sebelumnya, bu Shoimah itu juga pernah datang kepada kami, waktu itu dia datang berdua dengan suaminya, pak Fauzan. Mereka meminta agar siswi itu dikeluarkan," ujar Hariyono ketika dikonfirmasi seusai menerima kedua wali murid dikantornya.

Namun, Hariyono menegaskan, jika pihaknnya tidak mengeluarkan keputusan apapun terkait masalah ini. Dirinya mengaku hanya memberikan masukan agar masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan saja."

Kita tidak memutuskan apapun, hanya mengarahkan agar diselesaikan secara hubungan kemanusiaan saja," imbuhnya.

Sementara itu, belum ada stetemen resmi dari pihak sekolah. Mendatangi sekolah hanya mendapatkan jawaban bahwa Kepala Sekolah maupun wakil kepala sekolah sedang tidak ada ditempat. 

"Pak Kepala maupun wakasek sedang takziyah, jadi tidak ada ditempat," ujar Asik, seorang pegawai Tata Usaha yang menemui

Namun, ketika wartawan ini mencoba mencari tahu kebenaran keberadaan Kepala Sekolah, ternyata sang kepala sekolah baru saja keluar. 

"La itu pak Adi (Adi Wasito kepsek, red) baru saja keluar dengan mobilnya," ujar Elsa Puspita Sari siswi kelas VIII sambil menunjuk sebuah mobil jenis espass warna merah yang meninggalkan gerbang sekolah.

Terpisah, Arum Damayanti terlihat masih tertekan. Saat Koran ini mencoba mengkonfirmasi permasalahan yang menderanya, dirinya malah berlari menjauh. Begitu juga dengan Rizky Amalia Wahyuningtyas, namun dirinya masih sempat mau berkomentar bahwa semuanya telah diserahkan pada ibunya." Di status itu saya tidak menyebut nama siapapun. Biar ibu saya saja yang mengurusi," pungkasnya sambil bergegas pergi.(prigibeach.com)
Related Posts with Thumbnails

0 komentar:

Poskan Komentar

TULIS KELUHAN ANDA DI SINI