Rabu, 19 Januari 2011

Kisah Bona dan Lagu "Andai Aku Gayus Tambunan" yang Makin Terkenal

Tenarnya nama Gayus Tambunan, ternyata bisa membawa berkah juga bagi salah seorang mantan narapidana asal Gorontalo. Namun, jangan salah sangka, berkah itu tidak datang begitu saja, melainkan melalui sebuah perjuangan dan kreativitasnya. Yakni dengan menciptakan sebuah lagu berjudul "Andai Aku Gayus Tambunan". Lagu yang diuploadnya ke YouTube ini ternyata digemari oleh lebih dari 80 ribu netter dengan komentar yang memuji-mujinya. Ikuti kisahnya berikut ini.

Lagu Andai Aku Gayus Tambunan yang dirilis melalui YouTube kian menarik perhatian masyarakat. Lagu itu diciptakan Bona Paputungan yang kebetulan eks narapidana dan wajahnya juga mirip Gayus jika mengenakan wig. Inilah cerita tentang Bona.

===========================
JIRO PAPUTUNGAN, Gorontalo
===========================

Andai ku Gayus Tambunan....
Yang bisa pergi ke Bali....
Semua keinginannya... pasti bisa terpenuhi....
Lucunya di negeri ini....
Hukuman bisa dibeli....
Kita orang yang lemah... pasrah akan keadaan

Refrain di atas adalah cuplikan lirik lagu Andai Aku Gayus Tambunan yang diciptakan Bona Paputungan. Nama pria 32 tahun itu belakangan menjadi bahan perbincangan publik. Itu terjadi setelah lagunya tersebut dirilis di YouTube.

Hingga tadi malam, dari data total views, klip video lagu itu sudah diklik atau diunduh lebih dari 80 ribu kali, dengan sebagian besar komentar memuji.

Sehari-harinya Bona tinggal di Kota Gorontalo. Dia adalah mantan narapidana di Lapas Kelas II A Kota Gorontalo. Bona harus meringkuk di penjara karena kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Pengadilan negeri setempat memvonis Bona tujuh bulan penjara untuk kasus tersebut. "Saya masuk (penjara) sejak 11 Maret (2010) dan keluar Oktober (2010)," cerita Bona saat berbincang dengan Gorontalo Post (Grup JPNN).

Ditambahkan, selama di penjara dia merasakan betapa sulitnya hidup serba dikekang. Semua serba diatur dan gerak-gerik pun selalu diawasi. "Kami bangun jam setengah lima pagi, lalu salat Subuh. Setelah itu, apel pagi. Semuanya diatur. Pokoknya sangat sulit," katanya.

Menurut Bona, napi kelas teri seperti dirinya sering dianaktirikan. Bertemu dengan keluarga saja harus mengikuti waktu besuk. Selain itu, tidak boleh. Apa lagi sampai keluar lapas dan menghirup udara bebas.

Tetapi, sudah menjadi rahasia umum, yang namanya pejabat, koruptor, dan orang berduit yang masuk penjara akan mendapatkan perlakuan khusus. "Seperti Gayus. Teman-teman saya di lapas bilang, coba kalau kita seperti Gayus, pasti kosong ini penjara karena kita bisa jalan-jalan ke mana saja," ujar Bona. Dari situlah, muncul ide menciptakan lagu.

Bona mengatakan, dirinya tak pernah menciptakan lagu sebelumnya. Fenomena dan gambaran hukum yang dia peroleh di balik penjara cukup kuat memotivasi dia untuk membuat lagu. "Saya memang orang entertain. Saya hobi nyanyi. Tapi, kalau ciptain lagu, baru kali ini," tuturnya.

Ada sepuluh lagu yang diciptakan Bona. Salah satu di antaranya adalah Andai Aku Gayus Tambunan. Sembilan lagu lainya juga menggambarkan kehidupan dalam penjara dan proses hukum di Indonesia. Misalnya, lagu berjudul Maaf yang menceritakan terpisahnya suami istri saat menjalani masa hukuman. Bahkan, ada lagu yang berjudul Markus (makelar kasus). "Semua lagu itu sudah dalam bentuk Mp3," ujar Bona.

Lagu-kagu itu adalah bentuk kreativitas Bona sebagai kritik bagi para penegak hukum yang selama ini ternyata masih pilih kasih dalam menerapkan aturan. "Ini bukan aji mumpung karena Gayus lagi naik daun, kemudian saya buat lagu. Ini benar-benar hasil kreativitas saya dari kondisi penanganan hukum yang ada. Juga dari pengalaman yang saya alami," tuturnya.

Bona tidak membutuhkan waktu lama untuk menciptakan lagu tentang Gayus. Apalagi, dia senasib dengan Gayus. Yakni, sama-sama hidup di penjara. Hanya, Gayus banyak mendapatkan perlakuan istimewa. Yang merepotkan Bona justru pembuatan klip video lagu Andai Aku Gayus Tambunan.

Dari pengamatan tim kreatif yang menggarap klip video, wajah Bona ternyata mirip dengan Gayus Tambunan. Karena itu, dalam klip itu diciptakan skenario Bona memerankan sosok Gayus yang akan berpelesir ke Bali, meski sedang meringkuk di tahanan. Lokasi tahanan mengambil tempat di Lapas Kelas II A Kota Gorontalo.

Digambarkan dalam klip itu, Bona menyogok salah seorang penjaga tahanan. Selanjutnya, dia keluar dari tahanan dengan mengenakan jaket hitam, wig, dan kaca mata. Begitu semua dipakai, wajah Bona mirip dengan wajah Gayus yang tertangkap kamera saat menonton tenis di Bali. "Yang susah adalah mencari wig yang mirip dengan wig yang dipakai Gayus," kata Bona.

Hingga menjelang syuting klip video, Bona masih sibuk mencari wig. Saat itu sejumlah salon kecantikan di Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo dikelilingi. Setelah bersusah payah, akhirnya dia mendapatkan wig yang diharapkan.

Soal lokasi di Lapas Kelas II A Kota Gorontalo yang menjadi tempat pembuatan klip dibenarkan Kepala Lapas Gorontalo Sunarto Bcip SH. Bahkan, dia menambahkan, rencananya launching album karya Bona itu dilakukan pada 23 Januari mendatang di Lapas Gorontalo. "

Secara pribadi, saya merasa bangga bahwa mantan binaan lapas ini mampu lebih mengapresiasikan dirinya setelah keluar dari Lapas Gorontalo. Dalam lagunya, dia berani mengungkapkan suatu bentuk kekecewaannya," ungkap Sunarto.

Dia lantas menceritakan sosok Bona selama tinggal di lapas. Bona, kata Sunarto, merupakan satu seorang di antara sekian napi yang aktif dalam kegiatan di Lapas Gorontalo. Tak hanya lagu itu yang diciptakan Bona semasa dalam tahanan. Dia memang sering membuat dan mengaransemen sendiri lagu ciptaannya.

"Saya ikut kaget, tak menyangka bisa setenar sekarang lagunya. Kami memang ada jadwal hiburannya. Jadi kami menyediakan fasilitas untuk mereka menyanyi karena banyak di antara mereka yang pandai bermain musik sebagai salah satu kegiatan hiburan bagi para napi," tutur Sunarto saat ditemui dirumahnya.

Soal lagu karya Bona yang sedikit menyudutkan para aparat penegak hukum negeri ini, Sunarto tidak mempersoalkan. Dia menegaskan, di Lapas Gorontalo, kasus suap seperti yang menimpa Gayus Tambunan tak terjadi. Namun, Lapas Gorontalo pun tetap memberikan hal-hak kepada napi untuk keluar lapas dengan alasan tertentu jika ada permohonan dari pihak keluarga.

"Kami tetap memberikan hak-hak napi seperti menjadi wali pernikahan dengan prosedur terlebih dahulu napi tersebut disidang dalam sidang TPP. Jika hasil sidang menyetujui, napi mendapatkan izin keluar, tentu dengan pengawalan dari pihak kepolisian," tandas Sunarto.

Di bagian lain, kreativitas Bona ternyata berbuah ancaman. Minggu lalu (16/1) Bona mendatangi Mapolda Gorontalo untuk melaporkan ancaman yang dia alami. Ceritanya, setelah klip lagunya semakin dikenal luas melalui YouTube, dia diancam seseorang melalui telepon. Orang yang mengancam via telepon itu mengaku anggota detasemen khusus. "Saya tidak tahu siapa yang mengancam. Nomornya nomor baru," kata Bona.

Bona mengatakan, sejak lagunya heboh di YouTube dan kini banyak diputar sejumlah statiun TV, banyak nomor baru yang masuk ke telepon selulernya. Salah satu di antaranya bernada ancaman. "Anda berhadapan dengan densus Jakarta, Anda tau akibatnya. Anda sudah membuat ciptaan sebuah lagu untuk Gayus." Begitu suara si penelepon yang mengancam Bona.

Si peneror itu juga menanyakan alamat lengkap Bona Paputungan. Tetapi, sebelum Bona menjawab lengkap alamatnya di Kota Gorontalo, dia terlebih dahulu menebak bahwa Bona berdomisili di wilayah JDS (Jalan Dua Susun), Kota Gorontalo. "Saya di Talumolo, dekat SPBU," kata Bona dalam percakapan itu. Alamat Talumolo disamarkan Bona karena merasa terancam.

Nomor telepon yang meneror Bona adalah 08128648290. Si penelepon bahkan mengancam keluarga Bona yang ada di Gorontalo. "Saya tidak mengerti kok bisa mendapat ancaman seperti ini," ujar Bona.

Dia menuturkan, saat telepon teror itu masuk, dirinya sedang dalam persiapan live untuk wawancara salah satu statiun TV nasional terkait karyanya tersebut. Nah, saat ada nada ancaman, teman wartawan langsung katakan untuk dispeaker dan direkam saat sedang ngomong," ujar Bona.

Dia kepada Gorontalo Post mengaku sangat terancam dengan adanya telepon tersebut. "Terus terang saya ciut nyali. Baru kali ini saya dapat ancaman. Keluarga saya juga diancam," katanya.

Kapolda Gorontalo Brigjen Pol Irawan Dahlan melalui Kasat I Direskrim AKBP Haddra Datulong mengatakan, pihaknya segera mengungkap kasus tersebut. "Kami sudah terima laporannya. Bona mengaku ada yang mengancam lewat telepon," ujar Hadra. (jpnn/c4/kum)
Related Posts with Thumbnails

1 komentar:

Poskan Komentar

TULIS KELUHAN ANDA DI SINI