Kamis, 08 April 2010

Peluang Mengais Rezeki Di Negeri Orang



BNP2TKI Petakan Ribuan Permintaan Kesempatan Kerja

Seiring dengan pulihnya perekonomian dunia yang ditandai dengan tingginya permintaan tenaga kerja asing (TKA), Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) melalui Business Meeting di Bali 6-9 April, Shanghai World Expo Mei-Oktober 2010, dan Pameran Produksi Expor (PPE) menargetkan penempatan sedikitnya 200.000 TKI di sektor formal.

Data BNP2TKI mencatat Timur Tengah dan Malaysia menempati pilihan tertinggi Calon TKI (CTKI). Umumnya para CTKI itu beralasan adanya kesamaan bahasa, budaya dan agama yang dianggap mempermudah usaha merubah nasib pada dua pilihan di negara itu.


Keunikan Business Meeting di Bali didesain untuk memetakan jumlah permintaan para mitra bisnis dari negeri Jiran. BNP2TKI memfasilitasi pertemuan para pemberi job order (JO) dari users di Malaysia dengan para Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS) di Hotel Jayakarta, Bali 6-9 April.


Kepala BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat menilai dari segi target penempatan TKI, pertemuan di Bali ini sudah jelas. Para mitra bisnis yang diundang sudah membawa job order (permintaan TKI) yang sudah diketahui (endorsed) oleh perwakilan luar negeri Indonesia di Malaysia.


Melalui Business Meeting ini dia mengharapkan mendapatkan informasi tentang persyaratan dalam menerima TKA di Malaysia, dan juga untuk mempertemukan pengguna (users) dengan PPTKIS, serta mendapatkan permintaan tenaga kerja (job order) yang diperlukan dalam proses penempatan tenaga kerja di negeri Jiran.


“Kami optimistis dari ketiga program unggulan, Business Meeting di Bali, Shanghai World Expo, program tahunan dan PPE target 200 ribu TKI akan tercapai,” ungkap Jumhur.


Sementara itu Deputi Kerjasama Luar Negeri dan Promosi Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Ramli Saud, SH, LLM menuturkan, ada 5 (lima) sector unggulan yang diminta para mitra bisnis/users yang dibawa oleh Konsulat Jenderal dari Johor Bahru, Penang, Sabah, Kinibalu, dan Kunching. Kelima sektor itu adalah manufaktur, konstruksi, perkebunan, kesehatan dan service (jasa).


“Pesatnya perkembangan proyek pembangunan di pelbagai bidang di Malaysia, khususnya bidang konstruksi di Semenanjung yang terletak di kota Johorbaru seperti pembangunan Mega Proyek Iskandar dan sekitarnya membutuhkan banyak tenaga konstruksi,” papar Ramli seraya menambahkan di negara bagian Kucing sedikitnya ada 150 ribuan permintaan untuk sektor perkebunan dan konstruksi.


Bukan itu saja, permintaan dunia akan Crude Palm Oil (CPO) dari Malaysia yang tinggi juga membutuhkan ribuan TKA di perkebunan. Belum lagi pesatnya zone industry manufaktur di negara bagian Penang yang membutuhkan ribuan tenaga kerja semi skill dan skill.


Ramli menilai pertumbuhan ekonomi di Malaysia yang tinggi saat ini tidak diimbangi oleh peningkatan dalam penyediaan tenaga kerja. Apalagi kondisi demografi Malaysia lebih mudah mendatangkan TKA dari Indonesia dibandingkan dari negara lain, sehingga memberikan peluang yang lebih besar kepada TKI.


“Malaysia mengalami kekurangan (shortage) tenaga kerja,” tukas Deputi yang gemar berpantun ini sembari menyebutkan, khusus Business Meeting dengan Malaysia ini, pola penempatannya P to P.


Namun demikian, Ramli mengatakan pihaknya kini sedang mengembangkan permintaan adanya guru bahasa Indonesia dengan Australia melalui penempatan G to G. Selain itu, BNP2TKI juga tengah menjajaki permintaan TKI skill yang cukup tinggi akan tenaga kesehatan dari Libya dan permintaan TKI non kesehatan dari Jepang.


Melalui Business Meeting ini dia mengharapkan mendapatkan informasi tentang persyaratan dalam menerima TKA di Malaysia, dan juga untuk mempertemukan pengguna (users) dengan PPTKIS, serta mendapatkan permintaan tenaga kerja (job order) yang diperlukan dalam proses penempatan tenaga kerja di negeri Jiran.


Business Meeting yang diselenggarakan di Hotel Jayakarta, Bali ini diikuti oleh 200 orang peserta, terdiri dari perwakilan pemerintah RI di Malaysia (Kedubes RI, Konjen Johor Bahru, Penang, Sabah, Kinibalu, dan Kuching), Instansi pemerintah (BNP2TKI, Kemenlu, Kemenakertrans, BP3TKI, P4TKI, Dinas Tenaga Kerja, Pemda), PPTKIS, Mitra Bisnis/users dari Malaysia, dan Lembaga pendidikan dan pelatihan.





Gatot Subagio

Pentingnya Bahasa Inggris bagi CTKI Lulusan SMK


Modal terampil kerja (skill worker) bagi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang bersedia menjadi calon tenaga kerja Indonesia (CTKI) dan siap menjadi TKI formal, memang merupakan syarat utama. Namun, yang tidak kalah pentingnya lagi adalah, modal kemampuan berbahasa Inggris.

Demikian pesan dan sekaligus warning (peringatan) yang disampaikan Gatot Subagio (63), mantan TKI sukses yang kini menjadi guru bahasa Inggris kepada para kepala SMK se-DKI Jakarta saat mengikuti "Sosialisasi Lulusan SMK yang Siap Diproyeksi Menjadi TKI di Luar Negeri" di Kantor BNP2TKI, Rabo (7/4) kemarin.


Di depan 43 kepala SMK se-DKI Jakarta itu, Gatot yang didaulat sebagai narasumber Bahasa Inggris oleh BNP2TKI menjelaskan, kebanyakan CTKI gagal menjadi TKI formal di luar negeri lantaran tidak memiliki kemampuan berbahasa Inggris.


"Saya memiliki pengalaman pahit dalam menyeleksi CTKI yang gagal untuk disiapkan sebagai TKI formal, lantaran tidak memiliki kemampuan Bahasa Inggris," ungkap Gatot.


Sebab itulah, menurut Gatot, kiranya para kepala SMK se-DKI Jakarta (dan juga SMK lainnya di Indonesia) perlu memberikan muatan Bahasa Ingris ini secara lebih kepada para siswanya. Sehingga, begitu para siswanya lulus SMK benar-benar sudah siap kerja.


"Bahasa Inggris ini merupakan bahasa internasional yang sangat diperlukan dalam dunia kerja, baik di dalam negeri maupun lebih-lebih di luar negeri. Jadi, tidak ada salahnya jika memberikan muatan Bahasa Inggris untuk setiap mata pelajaran sejak diterima menjadi siswa di SMK," kata Gatot.


Menanggapi harapan Gatot ini, Kepala Seksi Bidang SMK Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Rita Ariyani yang turut hadir dalam acara itu sangat mendukung sekali.


"Pada era global yang ditandai dengan pesatnya perekembangan teknologi sekarang ini, Bahasa Inggris sudah merupakan kebutuhan bagi setiap siswa. Saya sangat mendukung bila siswa di SMK yang memang diproyeksi sebagai pekerja, sejak dini diberikan muatan Bahasa Inggris di setiap mata pelajarannya di sekolah. Sehingga, begitu lulus sekolah, sudah tidak kebingungan hanya gara-gara Bahasa Inggris," ungkap Rita.


Sedangkan Direktur Penyiapan dan Kelembagaan Penempatan BNP2TKI, Drs V Arifin Purba MSi mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja luar negeri, bagi lulusan SMK yang gagal seleksi menjadi TKI lantaran tidak memiliki kemampuan Bahasa Inggris, mereka nantinya akan disalurkan ke Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) untuk dilatih Bahasa Inggris dengan program khusus dan cepat.


"Kami sudah meminta kepada 20 PPTKIS di Jakarta, agar bisa mengadakan pelatihan Bahasa Inggris secara cepat kepada CTKI lulusan SMK yang gagal seleksi sampai mereka benar-benar menguasai Bahasa Inggris," kata Arifin.


(Sumber : bnp2tki)


0 komentar:

Poskan Komentar

TULIS KELUHAN ANDA DI SINI